

Hutan, sebelum mahluk hidup (khususnya manusia) ada, engkau sudah eksis. Menghuni setiap jengkal bumi sebagai penjaga kesuburan tanah, pemelihara humus, dan pengaman erosi lahan. Keberadaanmu menjadi dambaan setiap mahluk hidup penghuni bumi, sajak dulu, ratusan atau ribuan atau bahkan jutaan tahun. Bumi lestari karena Tuhan menitahkanmu menjadi penjaga, pemelihara, sekaligus penghias keindahan bumi. Apa jadinya alam tanpa hutan, tanpa hijau daun, tanpa bau tanah hutan, tanpa desir angin yang lahir dari gesekan reranting pohon di 'perut' dan 'dadamu'. Tapi itu dulu, hutanku.
Sekarang, keadaan sudah sangat berbeda. Manusia sudah menjadi penguasa di mana-mana, bahkan penguasa yang congkak! Karena merasa paling berkuasa di atas semua mahluk hidup. Manusia merasa sebagai mahluk paling dimanja Tuhan. Dengan tubuh yang fleksibel, tangan dan kaki yang praktis, serta isi kepala yang luar biasa, manusia seakan-akan hendak merengkuh bumi, langit dan alam raya dalam genggamannya. Semua yang ada di bumi, bahkan sebelum mereka ada, ditaklukkannya dengan segera. Isi perut bumi diaduk-aduk, diolah menjadi bahan untuk menjalankan roda-roda industrinya, sehingga dengan industri itu langit (baca ozon) menjadi tercabik-cabik dan rusak maha hebat, sungai dan laut menjadi pembuangan limbah yang mengerikan, lingkungan teraniaya dan kehidupan yang akan datang untuk anak cucu ternoda dengan pencemaran yang maha dahsyat. Dan ... tak ketinggalan, manusia tamak nan pongah merusak (dengan keji dan kejam) hutan dan seluruh isinya. Hutan Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, Irian (Papua) menjadi objek jarahan dan kejahatan oknum-oknum yang hanya mementingkan diri sendiri (untuk kepentingan sesaat), menjarah kekayaan hutan tanpa memedulikan kerusakan ekosistem hutan yang dapat berakibat dengan menurunnya mutu kehidupan itu sendiri.
No comments:
Post a Comment