Tuesday, November 28, 2006

Lumpur panas Lapindo

Orang-orang mulai berpikir. Bencana apa lagi yang akan menimpa Republik Indonesia tercinta ini. Setelah tsunami meluluh-lantakkan Aceh, gempa bumi menghancurkan sebagian wilayah nusantara, banjir, tanah longsor, tsunami Pangandaran dan Cilacap, letusan Gunung Merapi, dan bencana nasional terakhir yang tidak kalh 'seramnya' adalah semburan lumpur panas di Porong, Sidoarjo (Jatim), yang dikenal dengan 'lumpur panas Lapindo'.
Pengetahuan manusia sangatlah terbatas, termasuk pengetahuan untuk memahami gejala alam di sekitarnya. Instink manusia tidaklah terlatih seperti instink binatang. Manusia mengetahui dan memahami sesuatu setelah lama mempelajarinya. Pengetahuan manusia berdasarkan pengalaman yang dialaminya berulang-ulang. Itulah hakikat ilmu pengetahuan. Kendatipun demikian, kadang-kadang manusia bertindak ceroboh sehingga pengetahuan yang sudah diketahuinya menjadi sia-sia, pengalaman yang sudah dialaminya menjadi percuma.
Semburan lumpur panas (seperti yang sekarang terjadi di Porong) konon bukan yang pertama karena pernah terjadi di negara lain. Apabila kandungan lumpur di perut bumi dengan titik kedalaman tertentu itu dieksplorasi (baca: dibor), diperkirakan semburannya akan sangat kuat, artinya diperluan pipa yang kuat dan berdiameter besar untuk meredam kekuatan semburan. Selain itu juga diperlukan teknologi lain untuk mengantisipasi terjadinya 'kecelakaan' akibat ketidak-mampuan menahan semburan. Apabila persyaratan tersebut tidak dipenuhi, akan sangat mungkin terjadi bencana semburan yang berakibat fatal. Kenyataannya, semburan lumpur benar-benar tidak dapat diatasi dan hingga kini sudah mengakibatkan kerugian sangat besar bagi perusahaan yang mengeksplorasi (PT. Lapindo Brantas), masyarakat yang tinggal di dekatnya, pemerintah setempat (Kab. Sidoarjo), pemerintah provinsi Jawa Timur, dan tentu saja pemerintah pusat, dan juga pengguna jalan tol Surabaya - Malang yang terhambat perjalanannya.
Lalu ... kita berdoa saja semoga semburan lumpur panas Lapindo segera dapat diatasi, bencana lain tidak datang lagi untuk Indonesia. Tuhan ... maafkanlah kami.

Sunday, November 26, 2006

Hutan, nasibmu kini




Hutan, sebelum mahluk hidup (khususnya manusia) ada, engkau sudah eksis. Menghuni setiap jengkal bumi sebagai penjaga kesuburan tanah, pemelihara humus, dan pengaman erosi lahan. Keberadaanmu menjadi dambaan setiap mahluk hidup penghuni bumi, sajak dulu, ratusan atau ribuan atau bahkan jutaan tahun. Bumi lestari karena Tuhan menitahkanmu menjadi penjaga, pemelihara, sekaligus penghias keindahan bumi. Apa jadinya alam tanpa hutan, tanpa hijau daun, tanpa bau tanah hutan, tanpa desir angin yang lahir dari gesekan reranting pohon di 'perut' dan 'dadamu'. Tapi itu dulu, hutanku.
Sekarang, keadaan sudah sangat berbeda. Manusia sudah menjadi penguasa di mana-mana, bahkan penguasa yang congkak! Karena merasa paling berkuasa di atas semua mahluk hidup. Manusia merasa sebagai mahluk paling dimanja Tuhan. Dengan tubuh yang fleksibel, tangan dan kaki yang praktis, serta isi kepala yang luar biasa, manusia seakan-akan hendak merengkuh bumi, langit dan alam raya dalam genggamannya. Semua yang ada di bumi, bahkan sebelum mereka ada, ditaklukkannya dengan segera. Isi perut bumi diaduk-aduk, diolah menjadi bahan untuk menjalankan roda-roda industrinya, sehingga dengan industri itu langit (baca ozon) menjadi tercabik-cabik dan rusak maha hebat, sungai dan laut menjadi pembuangan limbah yang mengerikan, lingkungan teraniaya dan kehidupan yang akan datang untuk anak cucu ternoda dengan pencemaran yang maha dahsyat. Dan ... tak ketinggalan, manusia tamak nan pongah merusak (dengan keji dan kejam) hutan dan seluruh isinya. Hutan Kalimantan, Sumatera, Jawa, Sulawesi, Maluku, Irian (Papua) menjadi objek jarahan dan kejahatan oknum-oknum yang hanya mementingkan diri sendiri (untuk kepentingan sesaat), menjarah kekayaan hutan tanpa memedulikan kerusakan ekosistem hutan yang dapat berakibat dengan menurunnya mutu kehidupan itu sendiri.